-->

Tangan di Atas Lebih Baik dari pada Tangan di Bawah

Tangan di Atas Lebih Baik dari pada Tangan di Bawah dan Cara Menerapkannya

Tangan di Atas Lebih Baik dari pada Tangan di Bawah Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah

Doaislami - Dalam agama islam ada konsep yang menyatakan jika tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah. Ini merujuk pada sebuah hadist Nabi saw :

عَنْ حَكِيْمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ

Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggungan mu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

Lantas apakah maksud dari tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Maksudnya adalah orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta. Jadi tangan di atas berarti orang yang memberi dan tangan di bawah adalah orang yang menerima atau meminta.

Dalam islam jelas disebutkan jika tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah. Oleh karenanya mulai lah dari sekarang untuk mengajarkan kepada keluarga atau bahkan anak kita tentang konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Ini selaras dengan konsep keduniawian, dimana tangan di atas atau orang yang memberi adalah mental orang orang kaya, sedangkan tangan di bawah atau orang yang meminta adalah mental orang orang miskin.

Oleh karenanya sangat penting untuk mengajarkan konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah ini. Karena secara tidak langsung akan merubah sudut pandang orang yang menanamkan konsep tangan di atas dan mampu merubah kualitas mental seseorang menjadi mental orang yang besar.

Cara yang bisa dilakukan untuk menerapkan konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah ini adalah seperti dalam contoh kecil pada saat hari raya tiba, baik hari raya idul fitri atau idul adha janganlah menanamkan kepada si anak untuk meminta ampau (uang jajan) kepada sanak saudaranya.

Meski itu mungkin merupakan tradisi pada saat hari raya tapi janganlah untuk menekankan anak menjadi orang yang meminta minta karena itu tidak baik dan akan mempengaruhi mentalitas nya kedepan.

Nah, mengenai makna dari tangan di bawah sebetulnya memiliki dua pengertian. Pertama, tangan di bawah berarti orang yang menerima. Jika tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah, lantas tangan yang di bawah atau orang yang menerima termasuk kedalam orang hina? Dan bolehkah menerima pemberian dari orang lain? 

Dalam sebuah riwayat disebutkan jika tangan di bawah atau orang yang menerima itu tidaklah hina dan boleh boleh saja untuk menerima pemberian yang diberikan oleh orang lain. Ini merujuk pada hadist Nabi saw :

خُذْهُ، وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا، فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَك

َAmbillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya dan tidak juga memintanya, maka ambillah. Dan apa-apa yang tidak (diberikan kepadamu), maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya).”

Dan makna kedua dari tangan di bawah ialah orang yang meminta minta. Nah konsep dari tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah sebetulnya lebih merujuk kepada tangan di bawah yang bermakna orang yang meminta minta.

Menjadi orang yang meminta minta tanpa kebutuhan yang jelas atau karena ingin kaya tetapi malas bekerja inilah yang dilarang oleh islam. Sehingga disebutkan jika tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, agar memberikan spirit atau dorongan bagi seorang muslim jangan sampai menjadi orang yang meminta minta dan hidup dari belas kasihan orang lain.

Dengan adanya konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah juga secara tidak langsung mengajarkan kepada seorang muslim agar bisa menjadi orang yang memberi alias tangan di atas. 

Karena orang yang meminta minta tanpa adanya kebutuhan sangat lah dilarang oleh agama islam. Selain akan merendahkan derajat diri dan keluarganya sendiri ketika masih di dunia juga ternyata di akhirat pun tetap akan direndahkan derajatnya oleh Allah sampai sampai merasa sangat malu sehingga tidak tersisa daging sedikitpun di wajahnya kelak. Ini dijelaskan dalam sebuah hadist :

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّىٰ يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِيْ وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ

Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.

مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ فَكَأَنَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ

Barangsiapa meminta-minta (kepada orang lain) tanpa adanya kebutuhan, maka seolah-olah ia memakan bara api.’”

Tetapi berbeda halnya bagi orang yang meminta minta karena memang didasari kebutuhan. Seperti pengemis yang memang hanya bisa meminta minta karena sudah lanjut usia dan tidak bisa bekerja karena kelainan semisal tunanetra atau bahkan mungkin tunadaksa. Maka bagi peminta minta seperti ini, kita selaku seorang muslim hendaklah memperlakukan orang tersebut dengan baik dan jangan memandangnya dengan sebelah mata.

Bahkan jika ada maka berilah meski hanya sedikit baik berupa uang, makanan atau pakaian. Karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah atau orang yang memberi lebih baik daripada orang yang meminta. Dan janganlah menghardiknya, sebagaimana dalam Al Quran yang berbunyi :

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَر

Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” [Adh-Dhuhâ/93:10]

Jika sudah faham dengan konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah atau orang yang memberi lebih bari daripada orang yang menerima atau meminta. Maka siapa orang yang lebih baik kita beri? Maka dalam sebuah hadist dijelaskan jika :

دِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِيْ رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعَظَمُهَا أَجْرًا الَّذِيْ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِك

َSatu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allâh, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), satu dinar yang engkau infakkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya ialah satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu.

Dari hadist di atas jelaslah jika orang yang lebih baik di beri adalah keluarga atau orang yang menjadi tanggungan kita sendiri. Jangan sampai banyak memberi kepada orang lain karena mengaplikasikan konsep tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah tetapi keluarga atau orang yang jelas menjadi tanggungan kita terabaikan.

Karena jika kita malah mengabaikan keluarga atau orang yang jelas menjadi tanggungan kita maka itu berdosa karena tidak memenuhi kewajiban. Oleh karenanya lebih jika utamakan dahulu keluarga atau orang kita tanggung, jika masih ada lebihnya barulah berikan kepada yang membutuhkan sebagai pengaplikasian dari tangan di atas.
LihatTutupKomentar

Dmca