Tunangan Dalam Pandangan Islam

Tunangan Dalam Pandangan Islam



Membahas tentang seputar pernikahan pasti tidak akan pernah ada habis habisnya. Dan di zaman sekarang sebelum menikah pasti diadakan dahulu acara tunangan sebagai salah satu rentetan dari acara sebelum pada pernikahan. Lalu bagaimana tunangan dalam pandangan islam

Menjawab tentang tunangan dalam pandangan islam kita ambil saja kesepakatan jumhur ulama yang menyatakan jika tunangan itu mubah alias boleh boleh saja. Jadi tunangan atau khitbah ini bukan hanya sebagai trend trend masa kini saja ya.

Karena memang dalam sebuah hadist pun disebutkan "Jika di antara kalian hendak meminang seorang wanita, dan mampu untuk melihat darinya apa-apa yang mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah.”(HR.Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam hadist berikut secara tidak langsung tunangan itu diperbolehkan bahkan dianjurkan. Karena, dari acara meminang atau tunangan itulah akan ada keputusan yang lebih memperjelas apakah wanita itu akan dinikahi atau tidak.

Ya, tunangan adalah proses janji seorang laki laki untuk mengikat seorang wanita dengan maksud akan dinikahi dan menghadirkan atau mempertemukan keluarga laki laki dan keluarga wanita sebagai tanda jika kedua belah pihak sudah saling memberikan restu. Namun, meskipun sudah diikat atau sudah tunangan tetap saja masih belum halal.

Karena di takutkan jika terlalu lama berada pada fase tunangan maka sudah merasa nyaman dan keinginan untuk menikah pun terlupakan karena sudah nyaman dalam zona tunangan. Sehingga waktu tunangan itu hendaklah jangan melebihi 9 sampai 18 bulan. Bahkan, lebih cepat lebih baik.

Nah, dalam fase tunangan masih ada kesempatan untuk saling menilai apakah tunangan tersebut akan dilanjutkan atau tidak. Namun, jikapun dari pihak wanita memutuskan untuk tidak melanjutkan tunangan maka barang barang yang telah diberikan dari pihak laki laki pada pihak wanita hendaklah jangan diambil kembali.

Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang mengutip: “Tidak ada halal bagi seseorang muslim memberi sesuatu kepada orang lain kemudian memintanya kembali, mengeluarkan bantuan ayah bagi” (HR. Ahmad al-irba'ati wa shohihu al-Tirmidzi wa ibnu hibban wa al-Hakim)

Tetapi jika tunangan diputuskan dari pihak laki laki maka hendaklah diingat kembali jika tunangan sama hal nya dengan janji (janji mengikat untuk dinikahi) dan janji itu haruslah dipenuhi. Dalam Al-Qur'an surat Al isra ayat 34 disebutkan ”Dan memenuhilah janji;Sesungguhnya janji itu harus disetujui pertanggungan jawabnya ”.

Tunangan itu sendiri adalah proses yang sakral karena mengandung sebuah janji yang harus ditepati. Meski kesakralan dari tunangan tidaklah sesakral dalam acara pernikahan. Namun, tetap saja tunangan pun memiliki syarat yang harus ditepati.

Syarat Dalam Tunangan 

1. Syarat Mustahsinah

Syarat mustahsinah adalah syarat yang menganjurkan pihak laki-laki untuk meneliti dahulu wanita yang akan dipinang atau dikhitbahnya.

Syarat mustahsinah sebetulnya tidak wajib namun dianjurkan oleh Rasulullah saw. Sebagaimana dalam hadistnya "Wanita dikawin karena empat hal, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka akan memelihara tanganmu”.(HR Abu Hurairah)

2. Ketentuan Lazimah

A. Wanita yang dipinang tidak dalam pinangan laki-laki yang lain "Janganlah seseorang dari kamu meminang (wanita) yang dipinang saudaranya, buat peminang yang sebelumnya dilihatkannya atau telah didukungnya." (HR Abu Hurairah)

B. Tidak boleh meminang wanita yang sedang berada dalam iddah talak raj'i. Karena wanita yang sedang berada di talak raj'i masih bisa rujuk dengan dukungan dan direkomendasikan untuk tidak dipinang sebelum masa iddahnya habis. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 228: "Dan suami yang berhak memenangkan pertanggungannya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah." (Al-Baqarah: 228)

3. Wanita yang ditinggal mati oleh izin dan dalam masa iddah atau yang menjalanai idah talak ba'in boleh dipinang dengan sindiran atau kinayah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-qur'an Al-Baqarah ayat 235: “Dan tidak ada dosa bagi kamu yang meminimalisir wanita wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (meminta mengawini mereka) dalam hatimu. Allah tahu bahwa kamu akan memanggil-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu Mengadakan janji kawin dengan mereka, kecuali meminta persetujuan (bagi mereka) Perkataan yang ma'ruf ”. (Al-Baqarah: 235)

Berikut sedikit penjelasan tentang tunangan dalam pandangan islam. Yang mana tunangan dalam islam itu boleh dan hendaklah untuk tidak terlalu lama. Karena bagaimanapun menikah jauh lebih baik daripada sekedar tunangan. Namun, jika masih belum siap atau masih dalam tahap mempersiapkan tetapi sudah menemukan wanita yang cocok maka hendaklah tunangan atau dipinang terlebih dahulu sebagai pengikat secara syar'iyah.

0 Response to "Tunangan Dalam Pandangan Islam"

Post a Comment

dmca

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel