-->

UZUR BAGI ORANG YANG BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

UZUR BAGI ORANG YANG BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

UZUR BAGI ORANG YANG BERPUASA DI BULAN RAMADHAN
UZUR BAGI ORANG YANG BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

Doaislami - Seperti yang kita ketahui puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap umat muslim kecuali orang yang memiliki uzur maka diberi keringanan atau rukhsah agar mengganti puasa nya di lain hari diluar bulan ramadhan.

Seorang wanita yang sudah memasuki masa baligh salah satu ciri nya yaitu mengalami menstruasi atau haid. Pastinya tidak akan menjalankan ibadah puasa baik sunnah atau pun wajib.

Sebagaimana dalam sebuah hadits yang berbunyi:

Aisyah menjelaskan, “Kami mengalami hal itu (haid), maka kami diperintahkan mengqadha  puasa tapi tidak diperintahkan mengqadha shalat,” (H.R Muslim dan Abu Daud).

Seorang muslimah yang sedang mengalami masa menstruasi atau haid maka dilarang banginya untuk berpuasa dan shalat. Para ulama telah sepakat (ijma) bahwa wanita yang sedang haid tidak diperbolehkan dan tidak diwajibkan berpuasa sama halnya dengan wanita yang sudah melahirkan dan masih mengeluarkan darah(nifas) maka dilarang untuk berpuasa. Namun hendaklah mengganti puasa tersebut di hari lain di luar bulan ramadhan.

Wanita haid ataupun wanita yang sedang dalam keadaan nifas memang dilarang untuk berpuasa baik itu puasa sunnah ataupun wajib. Sebenarnya terdapat beberapa kategori orang yang dilarang puasa atau diberi keringanan(rukhsah).

BEBERAPA ORANG YANG DI PERBOLEHKAN TIDAK BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

1). Orang yang sedang sakit, diperbolehkan untuk tidak berpuasa di bulan ramadhan jika memang keadaanya yang mengkhawatirkan atau bisa jadi menyebabkan kematian jika ia memaksaan menahan diri untuk berpuasa.

2).Orang yang sedang dalam perjalanan (safar), Juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat perjalanan yang ia tempuh sulit ,jauh dan dianggap akan membahayakan jika ia tetap berpuasa. Menurut imam hanafi seseorang yang berpergian sekitar 1 mil di perbolehkam untuk tidak berpuasa. Sedangkan menurut imam Syafi'i jarak perjalanan diperbolehkan nya seseorang tidak berpuasa adalah 83 KM. Hal ini Sesuai dengan Surat Al-Baqarah ayat 184 dan 185. 

Surah Al-baqarah ayat 184 :

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

ayyaamam ma'duudaat, fa mang kaana mingkum mariidhon au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, wa 'alallaziina yuthiiquunahuu fidyatun tho'aamu miskiin, fa man tathowwa'a khoiron fa huwa khoirul lah, wa an tashuumuu khoirul lakum ing kuntum ta'lamuun

Artinya : "(yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Surah Al-baqarah ayat 185 :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ

syahru romadhoonallaziii unzila fiihil-qur`aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa man syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-'usro wa litukmilul-'iddata wa litukabbirulloha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun

Artinya : "Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur."

Seseorang diperbolehkan tidak berpuasa dengan memiliki kewajiban mengganti puasanya atau mengqadha nya dilain hari di luar bulan ramadhan.

Tapi di zaman sekarang ini seiring berkembangnya teknologi yang semakin canggih jarak tempuh perjalanan menjadi relatif. Sekarang perjalanan bisa di capai sesuai dengan kendaraan yang kita pakai. Maka disini jarak tidak menjadi hal utama lagi melainkan tingkat kesulitan dan bahaya nya perjalanan yang akan ditempuh. Jika memang perjalanan yang akan ditempuh membahayakan maka boleh tidak puasa. Namun, dalam Al-Qur'an dianjurkan untuk tetap berpuasa jika sekiranya mampu mengingat keutaman yang Allah berikan dalam berkahnya puasa di bulan Ramadhan.

3).Wanita dalam keadaan nifas, Untuk wanita yang masih dalam masa nifas maka dilarang untuk berpuasa dan berkewajiban menggantinya atau mengqadha nya.

4).wanita haid, Dilarang berpuasa dan wajib juga mengganti puasanya di luar bulan ramadhan.

Lalu, bagaimana ketika wanita haid tidak berpuasa apakah di perbolehkan makan di siang hari di bulan Ramadhan? Atau haruskah dirinya menahan lapar dan haus sama halnya seperti orang yang sedang berpuasa?

orang-orang muslim di wajibkan berpuasa kecuali orang yang memiliki uzur seperti wanita haid, nifas, dan orang sakit diperbolehkan untuk berbuka dan membatalkan puasanya karena jika mereka tetap berpuasa maka sia-sia puasa yang ia lakukan. Meski begitu mereka wajib mengganti puasanya. Jika memang ingin tetap menahan diri untuk tetap tidak makan dan minum maka harus sesuai dengan ketentuan nash syar'i.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah Ta'ala pernah ditanya,

"Jika seorang wanita haid dan nifas mengalami suci di siang hari Ramadan, apakah keduanya wajib menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa?"

Ia menjawab:
"Jika wanita haid dan nifas mengalami suci di siang hari Ramadan, maka tidak wajib baginya menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa. Dia boleh makan dan minum, karena tidak berguna sedikitpun jika dia menahan diri, karena dia telah diwajibkan untuk qadha hari itu."

Adapun batasan dari hal tersebut sebagian ulama melarang ketika seseorang yang sedang haid, nifas atau sakit memperlihatkan dirinya kepada orang yang berpuasa bahwa dia sedang tidak berpuasa. Karena hal ini di khawatirkan orang akan menuduhnya tidak menghargai agama-Nya dengan tidak berpuasa.

Sebagian ulama yang lainnya berpendapat tidak apa-apa jika memang seseorang yang memiliki uzur diketahui bahwa dirinya tidak puasa.

Jika uzur itu sulit dikenali maka lebih baik di sembunyikan dan saat makan pun harus sembunyi-sembunyi tidak boleh terang-terangan.

Mungkin di kalangan kita uzur bagi wanita itu hal biasa dan bisa di maklum. Namun, tidak menutup kemungkinan hal itu bisa menjadi fitnah karena tidak semua orang berfikiran sama bisa memaklumi.

 Jadi jika memang sedang dalam keadaan uzur alangkah baiknya makan dan minum secara sembunyi-sembunyi. Mungkin untuk orang sakit orang akan memaklumi karena uzur yang mudah dikenali dan diketahui.

Wallahua'lam..
LihatTutupKomentar

Dmca