-->

SHALAT LAILATUL QODAR (Penjelasan, Niat, Tata cara shalat & Doa)

SHALAT LAILATUL QODAR (Penjelasan, Niat, Tata cara shalat & Doa) 


Doaislami - Membicarakan tentang shalat Lailatul Qadar pasti tidak akan terlepas dengan malam Lailatul Qadar itu sendiri. Ya, Lailatul Qadar adalah malam yang di nanti nantikan oleh kaum muslimin karena 1 malam itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu Allah swt dan para malaikat nya turun ke bumi sampai keadaan bumi begitu terasa damai. Allah dan para malaikat nya turun sembari menaburkan begitu banyak keberkahan.

Seperti dibukakan nya pintu taubat, pengabulan doa, ditutupkannya pintu neraka & dibukakannya pintu surga selebar lebar nya. Sehingga tak jarang orang islam begitu menanti nanti kan malam yang lebih baik dari seribu bulan ini. Namun permasalahan nya adalah tidak ada satupun manusia yang tahu kapan malam Lailatul Qadar itu terjadi, karena itu mutlaq rahasia Allah swt.

Namun yang populer kita ketahui jika malam Lailatul Qadar di percayai turun di 10 terkahir bulan ramadhan dihitung dari malam ke 17,19,21,23,25,27 dan 29. Sesuai dengan hadist Nabi Saw "Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).

Namun sejatinya malam Lailatul Qadar bisa turun kapan saja di bulan ramadhan, bisa saja turun di awal atau pertengah bulan ramadhan tidak selalu di akhir bulan ramadhan. Sehingga sudah seharusnya sejak malam pertama bulan ramadhan pun kita lebih giat dalam beribadah sebagai rangka memantaskan diri untuk menjemput malam penuh keberkahan itu. 

Lalu adakah amalan khusus yang dianjurkan untuk menjemput malam Lailatul Qadar? 

Menurut Imam an Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin, menulis dalam kitab tersebut bab Fadhlu Qiyami Lailatil Qadar wa Bayani Arja Layaliha (keutamaan melakukan shalat di malam Lailatul Qadar dan penjelasan tentang malam malam yang paling diharapkan sebagai Lailatul Qadar).

Hadisnya adalah:

من قام ليلة القدر ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Hadis ini muttafaq alaih, artinya diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Kemudian apakah ada tata cara khusus untuk shalat di malam yang diharapkan jika malam itu adalah malam Lailatul Qadar? Dalam kitab Khazinatul Asror, karya Syekh Muhammad Haqi an-Nazili halaman 38 disebutkan tentang kaifiyah (tata cara) shalat Lailatul Qadar dengan menyebut ada hadis riwayat Ibn Abbas yang berbunyi:

عن ابن عباس عن النبي عليه الصلاة والسلام. انه قال: من صلى في ليلة القدر ركعتين، يقرا في كل ركعة بفاتحة الكتاب مرة والاخلاص سبع مرات فاذا سلم يقول استغفر الله واتوب اليه سبعين مرة فلا يقوم من مقامه حتى يغفر الله له ولابويه ويبعث الله تعالى ملاءكة الى الجنان يغرسون له الاشجار ويبنون القصور ويجرون الانهار ولا يخرج من الدنيا حتي يرى ذلك كله 

Hadis tersebut juga tercantum dalam kitab Durratun Nashihin halaman 272. Syekh An Nazili menyebutkan bahwa kaifiyah itu juga ada dalam kitab Ihya Ulumu ad Diin karya Imam al Ghazali halaman 204 juz 1 terbitan Haramain. Syekh An-Nazili juga mengutip pendapat Imam Abul Laits bahwa paling sedikit shalat Lailatul Qadar itu dua rakaat. Namun, dalam keterangan dalam kitab Ihya’ Ulumu ad Diin tidak secara eksplisit menerangkan tentang shalat secara khusus untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Sehingga belum ditemukan status hadis tersebut. 

Shalat Lailatul Qadar itu sendiri mungkin menjadi amalan yang di lakukan di saat malam ke 17 sampai terkahir bulan ramadhan, karena di gadang gadang shalat Lailatul Qadar merupakan amalan untuk menjemput malam Lailatul Qadar. Pembahasan tentang shalat malam Lailatul Qadar itu sendiri di jelaskan dalam kitab Durratun Nashihin pada hal 272. Nah, lalu bagaimanakah kedudukan kitab Durratun Nâshihîn? Apakah dapat dijadikan rujukan untuk diamalkan ?

Di masyarakat kita mungkin kitab ini cukup populer menjadi pegangan dalam pengutipan hadits dalam ceramah-ceramah. Lengkapnya berjudul Durratun Nâshihîn fil Wa’zhi wal Irsyâd karya Syaikh ‘Utsmân bin Hasan bin Ahmad Syâkir al-Khubari seorang Ulama yang hidup di abad ke-9 H.

Tentang kitab ini, kami kutipkan pernyataan Syaikh bin Bâz rahimahullah dalam Fatâwâ Nûr ‘alâ ad-Darb (1/80-81)  dengan ringkas sebagai berikut:

“Kitab ini tidak bisa dijadikan pegangan. (Sebab) berisi hadits-hadits maudhû (palsu) dan lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran, sehingga tidak sepatutnya buku ini dijadikan sandaran dan kitab-kitab serupa lainnya yang berisi hadits palsu dan lemah. Hal ini karena hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mendapatkan perhatian penuh dari para imam-imam (Ahli) Sunnah. Mereka telah menjelaskan dan memilah hadits-hadits yang shahih dan yang tidak shahih. Maka, sudah seharusnya seorang Mukmin memiliki kitab-kitab yang baik dan bermanfaat (saja), seperti Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, Sunan al-Arba’ah, Muntaqa al-Akhbâr karya Ibnu Taimiyah rahimahullah dan kitab Riyâdhush Shâlihîn karya Imam Nawawi rahimahullah, Bulûghul Marâm, ‘dan ‘Umdatul Hadîts . Kitab-kitab (hadits) ini bermanfaat bagi seorang Mukmin. Kitab-kitab ini jauh dari hadits-hadits palsu dan dusta. Tentang hadits-hadits lemah yang ada di kitab Sunan, Riyâdhush Shâlihîn atau Bulûghul Marâm, para penulisnya telah menjelaskan dan menyampaikan hukumnya tersebut. Hadits-hadits yang lemah yang belum dijelaskan penulis kitab-kitab tersebut, telah dipaparkan dan ditunjukkan oleh para ulama lainnya dalam kitab-kitab syarah yang menjelaskan kitab-kitab tersebut. Demikian juga dijelaskan oleh para ulama dalam karya mereka (secara khusus) tentang hadits-hadits palsu dan lemah. 

Dari penjelasan berikut dapat kita simpulkan jika shalat Lailatul Qadar itu berasal dari hadist yang tertulis pada kitab Durratun Nashihin hal 272, dan kitab itu tidak sepatutnya dijadikan pegangan atau rujukan dalam melakukan suatu amalan. Karena kebanyakan hadist hadist di dalamnya berstatus hadist dhaif bahkan maudhu (palsu). Namun sekalipun amalan ini berasal dari hadist dhaif dan memang tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah (bid'ah) maka amalan ini bisa di kategorikan kedalam bid'ah hasanah (baik), seperti hal nya perayaan isra mi'raj, maulid, tahlil, dsb. Itu semua perbuatan yang bid'ah jika dilihat dari sisi Rasulullah, namun nyatanya sampai sekarang masyarakat masih melakukan perayaan itu. Jadi, sekalipun shalat Lailatul Qadar berasal dari hadist dhaif mengamalkannya boleh untuk fadhailul a’mal atau keutamaan amal.

Lalu bagaimanakah tata cara shalat Lailatul Qadar itu? Berikut penjelasan tentang tata cara melakukan shalat Lailatul Qadar beserta doa anjuran Rasulullah saw.

Niat Shalat Lailatul Qadar 

 Dalam melaksanakan sebuah ibadah pastilah di dahului dengan sebuah niat, begitupun dengan shalat Lailatul Qadar. 

"Ushalli Sunnatan lailatul qadri arba’a raka'atin lillahi ta’aalaa”  (untuk yang 4 rakaat).

Tata cara shalat Lailatul Qadar

 Cara melaksanakan shalat lailatul qadar sama saja dengan shalat yang lain tidak ada perbedaan apapun, kecuali perbedaan nya adalah jika dalam shalat Lailatul Qadar yang berjumlah 4 rakaat tidak ada tasyahud awal. 

Jumlah rakaat shalat Lailatul Qadar

Shalat Lailatul Qadar itu sendiri dapat dilakukan minimal 2 rakaat, bisa juga 4 rakaat (dengan 1 tahiyyat) dan maksimal 12 rakaat. 

Bacaan surat dalam shalat Lailatul Qadar 

 Surat yang harus di baca pada shalat Lailatul Qadar sama dalam setiap rakaat nya, yakni surat Al fatihah dilanjut dengan surat At Takasur 1x, Al Qadr 1x dan Al Ikhlas 3x. Jika tidak mampu, maka bisa di ganti dengan surat apapun yang di hafal.

Doa selepas shalat Lailatul Qadar

Doa yang dipanjatkan selepas shalat Lailatul Qadar boleh doa apapun sesuai hajat masing masing, namun Rasulullah menganjurkan agar memperbanyak memohon ampunan kepada Allah swt dengan doa ini : 


اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni"

Artinya : “Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku.”

Juga berdoa untuk memohon keselamatan di dunia dan akhirat, dengan doa Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar.'  Yang artinya Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.

Wallau'alam...
LihatTutupKomentar

Dmca