-->

SHALAT QADHA (Hukum bagi yang tahu/tidak, Tata cara pelaksanaan, dll)

SHALAT QADHA (Hukum bagi yang Tahu / Tidak, Tata Cara Pelaksanaan, dll)

shalat qadha
Shalat qadha

Doaislami
- Shalat 5 waktu adalah sebuah kewajiban bagi umat islam diseluruh dunia, karena shalat merupakan salah satu rukun dari islam itu sendiri. Namun tak jarang pelaksanaan shalat ini tak diindahkan oleh para muslim/muslimah dengan alasan tidak adanya waktu karena tuntutan pekerjaan, dll. Namun shalat tetaplah berhukum wajib dan segala yang wajib jika tidak dikerjakan maka berdosa dan akan mendapat siksa. Lalu bagaimanakah menghindari hukuman (dosa) atas meninggalkan shalat fardu? Sehingga timbulah pertanyaan tentang bolekah mengqhada shalat fardu? Jika iya, lalu bagaimana tata cara pelaksanaan nya? Serta pertanyaan pertanyaan lain seputar shalat qadha

Hukum Mengqhodo Shalat Fardu

Membahas hukum, bolehkan mengqhodo shalat fardu? Ini merujuk pada suatu peristiwa dimana ketika itu Nabi saw dan para sahabat bangun terlambat di waktu shalat subuh, yaitu setelah terbitnya matahari. Lalu Nabi saw dan sahabat mengqadha nya saat setelah terbangun dan Nabi saw memerintahkan sahabat untuk tetap sakinah (jangan terburu buru dalam wudhu) lalu mereka pun mengqadha shalat subuh setelah terbit matahari. (Shahih Muslim Bab : Mengqadha shalat yang tertinggal dan disunnahkan untuk menyegerakannya hadits no.680)

Sedangkan jika menurut ulama hukum mengqadha shalat fardu dari kesepakatan tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) adalah wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin baik shalat yang ditinggalkan sebab adanya udzur (halangan) atau tidak. Sedangkan menurut Imam Syafi’i qadha shalat hukumnya wajib dan harus dikerjakan sesegera mungkin bila shalat yang ditinggalkan tanpa adanya udzur dan bila karena udzur qadha shalatnya tidak diharuskan dilakukan sesegera mungkin. [ Al-Fiqh ‘alaa Madzaahiba l-Arba’ah I/755 ].

Berikut beberapa hadist yang berkaitan dengan mengqadha shalat :

Tentang shalat yang ditinggalkan karena lupa atau ketiduran wajib di qadha. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alayhi wasallam :

" من نسي صلاة فليصلها إذا ذكرها لا كفارة لها إلا ذلك " رواه مسلم

"Barang siapa lupa tidak melakukan shalat tertentu maka laksanakanlah jika ia ingat, tidak ada tanggungan atasnya kecuali qadha tersebut" (H.R. Muslim)

Dalam redaksi lain, Rasulullah bersabda :

" من نسي صلاة أو نام عنها فكفارتها أن يصليها إذا ذكرها " رواه مسلم

"Barang siapa lupa tidak melakukan sholat tertentu atau tertidur maka kaffarahnya adalah melaksanakannya jika ia ingat" (H.R. Muslim)

Dari kedua hadist tersebut diambil kesimpulan, jika shalat yang ditinggalkan karena lupa saja berhukum wajib. Maka shalat yang memang jelas jelas ditinggalkan karena unsur kesengajaan maka berhukum lebih dari wajib. Ini juga masuk ke dalam keumuman hadits Nabi saw yang sahih, dimana beliau bersabda :

" فدين الله أحق أن يقضى "

"Hutang kepada Allah lebih layak untuk dibayar (qadha)"

Namun ada juga yang berpendapat jika meninggalkan shalat dengan sengaja tidaklah wajib qhadha, ini menurut Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Sayyid Sabiq. Namun para ulama Islam yang lain, seperti al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i, al Hafizh Ibnu Thulun dan lain-lain menyatakan jika pendapat tersebut telah menyalahi ijma' (kesepakatan) para ulama. Sehingga wajiblah hukum atas mengqadha shalat fardu.

Hukum Mengqhada Shalat Bagi Yang Tidak Tahu Hukumnya?

Hukum mengqadha shalat memang lah wajib, namun apakah itu juga berlaku bagi mereka yang tidak mengetahui hukum tersebut? Jika menurut logika saja, bagaimana  mungkin seseorang dapat mengerjakan sesuatu yang tidak di ketahuinya?

Maka sudah jelas, tidak ada tuntutan mengqhada shalat fardu bagi yang tidak mengetahui hukumnya, ini merujuk pada "Sesungguhnya lupa dan kebodohan dapat menggugurkan dosa secara mutlak" [ Al-Asyabh wa an-Nadzoir juz 1 hlm 405 Cet. Dar el-Kutub al-Ilmiyyah ]. Namun jika di kemudian hari seseorang tersebut mengetahui tentang hukum dari mengqadha shalat, maka wajib lah atasnya mengqadha shalat yang dahulu pernah ditinggalkan.

Tata Cara Mengqadha Shalat Fardu

Tata cara mengqadha shalat fardu sama hal nya dengan shalat fardu itu sendiri, tidak ada perbedaan dalam gerakan ataupun bacaan. Namun kapankah waktu nya? Apakah qabla (sebelum) atau ba'da (setelah) shalat fardu? Maka lebih di sunah kan dilakukan diwaktu qabla (sebelum) shalat fardu itu sendiri. Inipun jika memenuhi syarat :
1. Tidak dikhawatirkan terjadi keluar waktunya hingga tidak bisa menemukan satu rokaat sholat dalam waktunya
2. Bila sholat yang diqadha ia ingat.

Ini merujuk pada

وقال الشافعية (1) : يسن ترتيب الفائت، وتقديمه على الحاضرة التي لا يخاف فوت وقتها، عملاً بفعل النبي صلّى الله عليه وسلم يوم الخندق، وخروجاً من خلاف من أوجبه، فترتيب الفائتة وتقديمها على .الحاضرة مشروط بشرطين: الأول ـ ألا يخشى فوات الحاضرة، بعدم إدراك ركعة منها في الوقت. الثاني ـ أن يكون متذكراً للفوائت قبل الشروع في الحاضرة
(1) مغني المحتاج: 1 / 127 وما بعدها، المهذب: 1 / 54.

Berkata kalangangan syafiiyyah: "Meruntutkan shalat yang telah lewat (yang wajib diqadha) hukumnya sunah (diurutkan seperti subuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya) juga sunah mendahulukan sholat yang telah lewat atas sholat yang hadir (sholat dimasa sekarang) yang tidak dikhawatirkan terjadi keluar waktunya karena mengikuti perbuatan nabi Muhammad saat perang khondaq dan agar keluar dari perbedaaan ulama yang mewajibkannya.

Lalu bagaimanakah jika kita sendiri tidak ingat bahkan tidak tahu hitungan dari shalat yang sudah kita tinggalkan? Cara mengqadha shalat yang tidak diketahui jumlahnya menurut Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah yaitu dengan mengqadha sejumlah shalat hingga ia yakin telah terbebas dari semua shalat yang pernah ia tinggalkan, sedang menurut Hanafiyyah tidak perlu yakin asal ia telah punya dugaan bahwa sholat yang pernah ia tinggalkan telah ia qadha maka sudah cukup. Nah, lalu kapan waktunya? Untuk mengqadha shalat fardu yang tidak di ketahui jumlah nya karena saking banyak nya, maka bisa dilakukan kapan saja. Asal jangan sampai menganggu waktu atas kewajiban nya, semisal waktu bekerja untuk mencari nafkah bagi anak dan istrinya.

Hukum Mengqadha Shalat Bagi Mayit

Hukum mengqadha shalat bagi mereka yang masih hidup memang lah wajib, namun bagaimana hukum nya mengqadha shalat atas orang yang telah meninggal? Karena mungkin tak jarang orang yang sebelum meninggal mengalami sakit parah sehingga tidak mampu mengerjakan shalat, atau mereka yang telah berusia lanjut sehingga pikun dan tidak mengerjakan shalat. Lantas bagaimana dengan shalat yang ditinggalkan nya? Apakah harus di qadha oleh keluarga dan bagaimana hukum nya?

Hukum mengqadha shalat bagi mayit memiliki perbedaan pendapat :
1.  Sebagian ulama memilih tidak wajib di qadha
2. Sebagian lain mengatakan harus di qadha oleh keluarga si mayit, dan
3. Sebagian lain memilih untuk di ganti (cukup dengan membayar fidyah), dimana 1x sholat=1 mud/6 ons beras. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh kebanyakan ashab Syafi'i.

. ﻭﻧﻘﻞ ﺍﺑﻦ ﺑﺮﻫﺎﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺪﻳﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﻠﺰﻡ ﺍﻟﻮﻟﻲ ﺇﻥ ﺧﻠﻒ ﺗﺮﻛﺔ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻰ ﻋﻨﻪ،ﻛﺎﻟﺼﻮﻡ.ﻭﻓﻲ ﻭﺟﻪـ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﺜﻴﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎـﺃﻧﻪ ﻳﻄﻌﻢ ﻋﻦ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﻣﺪﺍً

"Telah dinukil dari Ibnu Burhan dari Qoul Qadim (Madzhab Asy-Syafi'i) bahwa wajib bagi wali menshalatkan (mengqadha' shalat) yang ditinggalkan mayyit, seperti hal nya puasa. Menurut sebagian besar Ashab kami (ulama-ulama Syafi'iiyah) bahwa sesungguhnya (mengganti dengan) memberi makan, untuks setiap shalat dibayarkan satu mud. [Kitab I'anatuthalibin]

Shalat Sunah - Shalat Qadha

Semisal contoh seseorang yang dahulu nya khilaf sering meninggalkan shalat fardu sampai dimana ia masuk pesantren dan selalu memperbanyak shalat sunah karena memang kebiasaan di pesantren itu. Nah antara shalat sunah dan shalat qadha mana yang harus di dahulukan? Memperbanyak shalat sunah atau mengqadha dahulu shalat fardu yang pernah di tinggalkan.?

Maka yang harus di dahulukan adalah mengqadha shalat fardu, karena itu sebuah tanggungan yang belum terselesaikan. Dimana itu merupakan hutang kepada Allah swt, namun bila saat meninggalkan sholat fardunya dahulu karena udzur (alasan yang dterima agama) maka sah dan tidak haram sholat sunah nya, tetapi bila saat meninggalkan sholat fardunya dahulu tanpa adanya udzur maka haram baginya mengerjakan shalat sunah. Namun sah sholat sunahnya menurut Ibn Hajar, tetapi menurut Imam Zarkasy shalat sunahnya juga tidak sah.
LihatTutupKomentar

Dmca