Waktu Terbaik untuk Menikah dan Hukum Nikah Menurut 4 Madzhab

Waktu Terbaik untuk Menikah dan Hukum Nikah Menurut 4 Madzhab


Waktu terbaik untuk menikah
Waktu terbaik menikah

Doaislami - Menikah itu salah satu ibadah kepada Allah swt, bahkan merupakan ibadah dengan waktu terlama. Namun sejatinya alih alih hukum nikah yang pada standar nya adalah sunah bisa saja berubah menjadi wajib, mubah, makruh bahkan haram. Itu di sesuaikan dengan siapa yg akan melakukan pernikahan. Lalu apakah menikah itu adalah perbuatan yang baik? Jika ia, bukan kah sesuatu yang baik itu jangan di tunda tunda? Kita semua mungkin sepakat jika untuk melakukan hal yang baik itu jangan di tunda tunda, begitu pun dengan pernikahan. Jika sudah siap kenapa harus di tunda tunda, namun jangan sampai alih alih tidak ingin menunda nunda malah masuk kedalam kategori terburu buru atau tergesa gesa, karena Rasulullah saw sendiri tidak menyukai perbuatan secara terburu seperti sabdanya "al-‘Ajalah min al￾Syaithan; ketergesa-gesaan itu salah satu prilakunya
setan."

Kapan Waktu Terbaik untuk Menikah?

Lalu kapan kah waktu terbaik untuk menikah? Jika memang sudah masuk pada kategori kebaikan untuk seseorang, maka hendaklah di segerakan. Tetapi juga tidak dengan terburu buru dan tanpa persiapan. Namun jika menikah itu tidak termasuk kategori untuk kebaikan bagi seseorang, dan tidak masuk pada level wajib atau sunah maka sebaiknya mencari pengganti sebagai solusi, seperti hal nya berpuasa. Karena bukan hal yang mustahil seseorang menikah dengan niat ingin menyakiti pasangan atau keluarga pasangan nya, lantas menikah yang seperti ini yang berhukum sunah.? Juga selalu ada kasus dimana wanita belia di nikahkan dengan pria yang sepantasnya menjadi ayah nya, apakah pernikahan yang seperti ini juga yang di berhukum sunah menurut ulama.? Jelas tidak, karena hukum nikah itu lebih dari 1, hukum nya dapat berubah ubah tergantung kepada siapa yang akan menikah.

A.Hukum Nikah Menurut ke-4 Madzhab



hukum menikah menurut ke- 4 madzhab



1. Madzhab Hanafi

Imam al-Kasani dari kalangan al-Hanafiyah dalam kitabnya Bada’i al-Shana’i memyebutkan ada 3 hukul nikah untuk orang muslim, yaitu wajib, sunah dan mubah.

2. Madzhab Maliki

Dari kalangan al-Malikiyah, Imam al-Dardir dalam kitabnya al-Syarhu al-Kabir malah menyebutkan bahwa hukum nikah sama dengan hukum taklif yang 5, yakni bisa menjadi wajib, sunah, mubah, makruh, bahkan bisa menjadi haram.

 3. Madzhab Syafi'i

 Imam Nawawi al-Dimisyq dari kalangan al￾Syafi’iyyah dalam kitab fenomenalnya; al-Majmu’ menyebutkan bahwa hukum nikah itu disesuaikan dengan kondisi si laki-laki yang mengajukan “permohonan” pernikahan. Dalam golongan ini hukum nikah ada 4, sesuai dengan standar nya adalah sunah, namun juga bisa menjadi tidak sunah, mubah bahkan menjadi makruh.


 4. Madzhab Hanbali


Dari kalangan al-Hanabilah; Imam al-Mardaqi dalam kitabnya al-Inshaf menjelaskan bahwa hukum nikah ada 3: sunah,mubah, bahkan wajib.


Nikah Berhukum Sunah

Para ulama sepakat jika standar hukum nikah adalah sunah. Namun ini bukanlah hukum yang mutlaq, hukum ini bisa berubah sesuai dengan posisi dari laki laki yang akan menikah.
Faktor yang menyebabkan nikah menjadi sunah:


1. Sehat badan & sehat uang


Imam Nawawi memberikan syarat untuk bisa menikah dikatakan sebagai kesunahan jika adanya kemampuan diri untuk melakukan hubungan badan, dalam arti ia sehat jasmani yang membuatnya bisa memberikan keturunan. Selain sehat badannya, Imam nawawi juga mensyaratkan adanya kemampuan finansial untuk membiayai pernikahan yang di dalamnya ada mahar sekaligus kemampuan menafkahi diri dan istrinya nanti untuk kebutuhan sehari-hari.

Pendapat tersebut di dukung dengan
- Qs. An-Nur ayat 33 yang artinya “Dan bagi orang yang tidak mampu kawin hendaklah ia menjaga kesucian dirinya, sampai Allah memberikan kecukupan dan kemampuan
kepadanya dari anugerah-Nya
.
- Dari Abdullah bin Mas'ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada kami, "Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah mampu ba’ah, maka kawinlah. Karena dia itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena dapat menahan(HR. Bukhari Muslim). Kata ba'ah dalam hadist tersebut selain berarti jima juga berarti uang (keuangan)
- Imam Nawawi mengatakan:

فإن فقدها استحب تركه ويكسر شهوته ِبلصوم

Jika ia tidak punya biaya, dianjurkan untuk
meninggalkan nikah. Dan mengontrol nafsu syahwatnya dengan berpuasa.

2. Sehat badan walau tak punya uang
Dari kalangan al-Malikiyah, Imam al-Dusuqi dalam Hasyiyah-nya menyebut bahwa tidak ada syarat harus kuat finansial. Jika ia sehat badan dan mampu untuk membuahi, sesuai dengan tujuan dari pernikahan yaitu memberikan keturunan, maka nikah menjadi sunah baginya.
Sebab hukum menikah sunah bari mereka yang sehat badan walau tak punya uang.
- Karena Allah lah yang akan menjamin kecukupan nya, sebagai mana Q.S An-Nur:32 "jika ia faqir, maka Allah akan cukupkannya dari
anugrahnya"
- Dahulu Rasullullah pun pernah menikahkan sahabat nya yang faqir.
- Untuk mejaga diri

C. Nikah Berhukum Wajib


nikah berhukum wajib


Kebanyakan ulama berpendapat bahkan tidak berlebihan jika disepakati bahwa nikah berhukum wajib bagi mereka yang bertauqan atau memiliki syahwat yang tinggi (tak terkendali atau tidak dapat di cegah). Karena dengan tidak menikah di takutkan akan terjatuh pada perbuatan yang di haramkan, sehingga menikah menjadi wajib baginya.
Syarat yang menyebabkan menikah berhukum wajib
1. Ditakutkan akan jatuh pada perzinahan
2. Yakin mampu untuk menafkahi

Menikah atau Tidak, Sama Saja

Disini kondisinya jika tidak menikah pun tidak berdosa, dan jika menikah sekalipun tidak mendapatkan pahala. Sehingga situasi seperti ini berhukum mubah (boleh), dimana jika di kerjakan ataupun tidak maka sama saja. Beberapa faktor yang menyebabkan nikah berhukum mubah :

1. Menikah untuk menyalurkan syahwat

Para ulama sepakat jika menikah adalah jalan yang sah dan legal untuk menyalurkan syahwat kepada lawan jenis. Maka itu manusia menikah, dan dalam syariah segala sesuatu yang di lakukan karena kecenderungan sebagai manusia itu hukum nya mubah (boleh). Sehingga menikah untuk menyalurkan syahwat karena merupakan kecenderungan dari manusia itu hukum nya mubah, karena manusia memang memiliki hawa nafsu, atau kecenderungan manusia yang lain seperti makan, tidur dan istirahat itu berhukum mubah. Pada awal nya sesuatu yang mubah bila di kerjakan atau tidak ya sama saja, namun jika perbuatan mubah di lakukan dengan niat yang baik maka bisa juga bernilai pahala ataupun sebaliknya.

2. Tujuan dari menikah nihil

Jumhur ulama (kecuali Hanafiyah) sepakat jika nikah berhukum mubah bagi ia yang tidak memiliki syahwat kepada lawan jenis dan kecenderungan kepada wanita. Baik karena keturunan, faktor psikologis, penyakit, ataupun udzur lainnya. Karena tujuan dari pernikahan selain melaksanakan perintah Allah swt juga sebagai pemberi keturunan. Sehingga Rasulullah bangga dengan mereka yang mampu melahirkan banyak keturunan, karena manusia manusia yang lahir itulah yang akan menjadi penerus umat dalam menegakan agama islam. Beliau s.a.w. bersabda:
"Menikahlah dengan wanita yang penuh kasih dan juga mudah melahirkan, karena sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya umat di hari kiamat nanti (HR Abu Daud)
Jika tujuan dari pernikahan itu sudah diketahui tidak akan tercapai lalu apa beda nya dengan mereka yang tidak menikah? Maka pernikahan seperti ini berhukum mubah. Tetapi jika sesuatu yang berhukum mubah dilandasi dengan niat yang baik, semisal ingin memberi nafkah karena si wanita adalah orang tak mampu, atau menikahi janda karena ingin menjamin masa depan anak nya maka bisa bernilai pahala. Namun jika hanya dilihat dari segi nikah nya saja maka nikah yang seperti ini tetap berhukum mubah.

Menikah Berhukum Makruh

Pernikahan berhukum makruh hanya ada pada madzhab Syafi'iyyah dan Malikiyah.

1. Madzhab Syafi'iyyah
Dimana madzhab Syafi'iyyah memakruhkan menikah bagi ia yang tidak memiliki syahwat kepada lawan jenis dan tidak mampu untuk menafkahi. Imam Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin
mengatakan:

فإن َل حيتج كره إن فقد اْلهبة

Jika ia termasuk orang yang tidak butuh kepada jima’, dan ia tidak punya biaya, pernikahan hukumnya makruh.

Kondisi yang kedua dimana ia mampu untuk menafkahi namun terhalang untuk memberikan keturunan, baik permanen maupun memang tidak memiliki syahwat kepada lawan jenis. Imam Nawawi menyebut:

فإن وجد اْلهبة وبه علة كهرم أو مرض دائم أو تعيْي
كره وللا أعلم

Kalau ia punya kecukupan, tapi punya penyakit, seperti ketuaan, atau cacat permanen atau juga imponten,dimakruhkan menikah. Wallahua’lam.

2. Madzhab Malikiyah
Menikah di makruhkan bagi ia yang tidak bersyahwat, namun dengan menikah pun malah terlepas dari amalan amalan sunah yang biasa dikerjakan.

Lalu Manakah Yang Lebih Baik?

1. Ibadah lebih baik
Imam Nawawi dalam Minhaj al-Thalibin
mengatakan:

فإن َل حيتج كره إن فقد اْلهبة وإَل فال لكن العبادة
أفضل

Jika ia termasuk orang yang tidak butuh kepada jima’, dan ia tidak punya biaya, pernikahan hukumnya makruh. Sedangkan jika ia punya biaya, (dan tidak punya syahwat), menikah menjadi mubah. Dan bagi orang seperti ini, beribadah adalah jalan yang utama.

2. Menikah lebih Afdol
Walau imam Syafi'i dan Maliki memakruhkan pernikahan bagi ia yang tak bersyahwat namun banyak ulama yang lain nya berpendapat untuk lebih baik menikah saja, walau tidak akan memberikan keturunan namun setidaknya menikah lebih memberikan banyak manfaat daripada tidak menikah. Beberapa alasan yang menguatkan diantaranya :

Pertama, hadist Rasulullah yang mengatakan jika menikah adalah sunah ku, dan yang tidak menyukai sunah ku bukanlah golongan ku

Kedua, Rasulullah menikahi beberapa wanita tua, dimana usia setua itu tidak dapat mengandung dan memberikan keturunan. Tapi nabi tetap menikahinya, seandainya tidak menikah dan beribadah personal lebih baik maka nabi tidak akan menikahi wanita wanita yang telah tua itu. Dan kita pun tau beliau selalu mendahulukan melakukan sesuatu yang afdhol.

Ketiga, Menikah lebih menjaga diri dan lebih banyak manfaat daripada madharat.

Pernikahan Yang Haram


nikah berhukum wajib

1. Karena motif dan bahaya yang muncul.

Menikah dapat pula menjadi haram, karena sebab motif dan bahaya yang akan muncul di kemudian hari. Dari setiap madzhab berbeda pendapat tentang ini. Dari Imam Ibn ‘Abdin dalam Hasyiyah-nya (kalangan Hanafiyah) menyebut bahwa jika dengan menikah mendatangkan kemadharatan bagi salah satu pihak. Tetapi menurut Imam Ibn Abu Qasim al-‘Abdariy dari kalangan al￾Malikiyah dalam kitabnya al-taaj wa al-Iklil menyebut nikah itu haram jika dilakukan oleh orang yang tidak bersyahwat dan tidak mampu untuk menafkahi sehingga akan menimbulkan kemadharatan bagi si wanita. Sedangkan menurut Imam al-Syirbini dari kalangan al-Syafi’iyyah menyebut dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj menyatakan haram menikah jika salah satu syarat nikah tidak terpenuhi yaitu orang yang berakal, sehingga orang safih tidak sah untuk menikah. Maka pernikahan itu haram hukum nya.

2. Karena sebab pelaksanaan

1). Al-Mukhadanah

Perkawinan poliandri, dimana wanita menikah bersamaan dengan banyak suami.
2). Syighar
Pernikahan kebiasaan orang-orang jahiliyah. Nikah ini memiliki syarat "nikahkan lah aku dengan anak gadis mu maka akan ku nikahkan kamu dengan anak gadis ku". Ya pernikahannya agak rumit, yang pada intinya, kedua laki-laki ini saling menjadikan anak perempuan sebagai mahar untuk dinikahkan dengan laki-laki yang anak gadisnya ia nikahi.
3). Warisan
Dimana saudara suami dapat mewarisi sang istri jika suaminya telah meninggal. Selayaknya harta warisan yang di alih kepemilikan.
4). Mut’ah
Memiliki waktu dan syarat tertentu, semacam kawin kontrak.
5). Nikah Muhallil
Ingin menikahi kembali istri yang telah ditalak untuk yang ketiga kalinya, dan agar boleh dinikahi kembali maka diaturlah sebuah sandiwara, dimana ada laki-laki lain yang menikahi sang istri dengan syarat tidak boleh di gauli dan segera di ceraikan agar bisa dinikahi lagi oleh si mantan suami.

Hukum nikah pada standar nya adalah sunah, namun sejatinya berhukum mubah karena merupakan sesuatu yang dilakukan karena kecenderungan pemenuhan kebutuhan sebagai manusia dan sesuatu yang mubah pada dasar nya di lakukan atau tidak pun sama saja. Namun berbeda hal nya jika dilandasi dengan niat yang baik maka akan bernilai pahala, namun jika dilandasi dengan niat yang akan menimbulkan kemadharatan maka berhukum makruh bahkan sampai haram. Maka dari itu untuk menjadikan nikah berhukum sunah harus dengan usaha tertentu, karena hukum nikah itu tidak mutlaq melainkan berbeda dari satu orang ke orang yang lain di sesuaikan dengan kelayakan orang yang akan menikah itu sendiri.

Mungkin itu sekilas dari penjelasan mengenai tentang waktu terbaik nikah dan Hukum Nikah Mari kita semua belajar termasuk Admin,semoga bermanfaat.


0 Response to "Waktu Terbaik untuk Menikah dan Hukum Nikah Menurut 4 Madzhab"

Post a Comment

dmca

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel