Benarkah Cadar Hanya Budaya Arab?

Benarkah Cadar Hanya Budaya Arab?

Benarkah Cadar Hanya Budaya Arab.
Benarkah cadar hanya budaya arab?

Benarkah cadar hanya budaya arab? Ya, pertanyaan itu mungkin tak pernah usai. Terlepas dari begitu banyak pro dan kontra tentang hukum cadar itu sendiri. Sebelum membahas tentang benarkah cadar hanya budaya arab atau bukan, terlebih dahulu mari kita bahas tentang arti dari cadar itu sendiri. Apa si cadar itu.? Sederhana nya cadar adalah secarik kain untuk menutupi wajah seorang muslimah yang biasanya di gunakan dengan baju (gamis) dan jilbab panjang nya yang khas.

benarkah cadar hanya budaya arab

Kenapa di Arab memakai Cadar

Ada yang menjelaskan bahwa wanita arab sama saja dengan wanita wanita lain nya yang gemar memanjakan tubuh dan senang saat ia terlihat cantik. Namun pada masa jahiliyah, dimana bangsa arab memiliki perilaku yang sungguh tak terpuji, mereka senang akan berjudi, meminum arak, berzina, dan kesenangan lainnya yang tak bermoral. Pada saat itu wanita begitu tidak berharga, mereka di anggap lemah, tak berdaya dan selalu menjadi sasaran nafsu.  Begitu jahiliyah nya bangsa arab pada saat itu, sampai sampai berjudi, mabuk, bahkan berzina pun menjadi hal yang lumrah diantara mereka. Nah dari sana lah wanita arab harus bisa menjaga dirinya agar terhindar dari nafsu laki laki yang tak terkendali, dengan menggunakan baju yang panjang beserta kain penutup wajah yang saat ini sering kita sebut sebagai cadar. Namun ternyata, wanita arab pun saat di kamar nya memakai pakaian yang biasa saja dan tidak memakai cadar, namun saat ada seseorang yang memanggilnya dan di haruskan untuk keluar rumah mereka bergegas memakai baju panjang beserta cadarnya.

Memang tidak terbantahkan jika cadar merupakan budaya bangsa arab di masa lalu, mereka menggunakan nya untuk melindungi diri mereka dari perilaku tak bermoral yang menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu belaka di masa itu. Hukum memakai cadar selalu tak lepas dengan perihal apakah wajah termasuk aurat atau tidak, tentang hal itu Allah swt berfirman dalam Q.S An-Nur : 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ

Artinya : “ katakanlah kepada wanita-wanita mukminah : ‘hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakan perhiasan mereka kecuali yang tampak darinya….” [QS. An-Nur : 31]

Perbedaan Pendapat Tentang Cadar

Meski maksud kalimat KECUALI YANG TAMPAK DARINYA pun masih menuai banyak pendapat yang berbeda, seperti al-Imām ibn Jarīr ath-Thabari (w 310 H) dalam kitab Jāmi al-Bayān ‘an Tawīl ayi al-Qur’ān mengemukakan beberapa pendapat.

1. Yang boleh terlihat/ nampak itu adalah perhiasan dhohir berupa pakaian saja. Ini pendapatnya Ibn mas’ud, dan al-Hasan.

2. Yang boleh terlihat dari perhiasan wanita adalah celak (yang dipakai pada mata) sehingga wajah pun boleh terihat, cincin, gelang, sehingga otomatis sebahagian bagian tangan pun akan terlihat, karna ia tempat bagi cincin dan gelang. Ini adalah pendapatnya sahabat Ibn ‘abbas dan Sa’id Ibn Jubair.

3. Yang boleh terlihat dari perempuan adalah bagian wajahnya dan pakaianya. Ini pendapatnya Imam Qatadah dari al-Hasan.

Namun setelah At-Thabari, memerinci tiga pendapat tadi dengan menuliskan dalil-dalinya, beliau mengatakan bahwa pendapat yang utama dan benar adalah pendapat yang mengatakan wajah dan dua telapak tangan perempuan boleh terlihat dan ditampakan. Sehingga apapun jenis perhiasan (yang bersifat muktasibah) yang terdapat pada keduaya, boleh juga terlihat. Kemudian Ibnu jarir mengemukakan alasannya bahwa ijma ulama mengatakan orang yang shalat haruslah menutup aurat, dan bagi perempuan harus membukakan wajah dan kedua telapak tangan di dalam shalatnya dan menutupi sesisanya. Kalau itu sudah menjadi ijma ulama, maka kita fahami bahwa perempuan boleh menampakan sebagian badannya selama itu bukan aurat, dan di dalam shalat perempuan harus membuka wajah dan dua telapak tanganya. Maka, keduanya itu BUKANLAH AURAT.

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa wajah bukan lah aurat, jadi penutup wajah atau cadar itu sendiri tidaklah wajib, serta itu memang termasuk kebudayaan arab. Bagi mereka yang memakai cadar pun tidak di kenakan dosa, karena memang menutup aurat dengan lebih sempurna itu lebih baik dan sudah pasti mendapat lebih pahala. Namun bukan berarti yang tidak memakai cadar itu berdosa, karena menurut pendapat yang telah di paparkan wajah bukan lah aurat.

Hukum cadar dari pandangan ke 4 madzhab

Hukum cadar dari pandangan ke 4 madzhab
1. Madzhab Hanafi, madzhab ini berpendapat jika wajah bukanlah aurat. Namun untuk di zaman ini wanita muda di anjurkan menutup wajah / bercadar, bukan karena aurat tetapi ditakutkan terjadi fitnah.

2. Madzhab Maliki, madzhab ini juga berpendapat jika wajah bukan lah aurat, sehingga menurut madzhab ini cadar adalah makruh karena itu terkesan berlebih lebihan (al-ghuluw).

3. Madzhab Hambali, madzhab ini berpendapat jika seluruh anggota tubuh wanita itu adalah aurat, termasuk kuku sekalipun. Sehingga cadar itu wajib, karena wajah seorang wanita tidak boleh terlihat oleh laki laki yang bukan mahram maupun banci sekalipun, karena itu adalah aurat.

4.Madzhab Syafi'i, dalam madzhab ini ada 2 pendapat tentang hukum cadar, ada yang wajib dan sunnah.

Terlepas dari mereka memakai cadar atau tidak itu tergantung kepada kepercayaan masing masing, namun yang lebih penting junjung toleransi yang baik. Jangan hanya karena perbedaan antara memakai cadar atau tidak sampai menimbulkan permusuhan, karena sejatinya perbedaan itu ada untuk lebih memberi warna dalam kehidupan. Mereka yang memakai cadar tidak berarti bid'ah karena pada faktanya istri Rasulullah sendiri memakai cadar dalam keseharian nya, mereka yang bercadar juga berarti lebih ingin menutup aurat nya secara sempurna, jadi jangan lah di perolok olokan. Namun mereka yang tak memakai cadar pun tidak berarti hina, karena wajah itu sendiri bukan lah suatu aurat yang harus di tutupi.
Wallahu'alam....

0 Response to "Benarkah Cadar Hanya Budaya Arab?"

Post a Comment

dmca

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel