-->

Benarkah Suara Wanita Aurat?

Benarkah Suara Wanita Aurat?

benarkah suara wanita aurat
Benarkah suara wanita aurat?

1.Pengertian Aurat

Doaislami - Aurat adalah sesuatu yang harus dan wajib ditutupi. Dan tidak boleh terlihat oleh orang-orang ajnabi (bukan mahram).

2.Batasan Aurat Laki-Laki Dan Perempuan

Adapun aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan ,sedangkan lelaki aurat nya adalah antara pusar dan lutut.

Sebagaimana sabda Rasuullah SAW:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَا بَيْنَ السُّرَّةِ إِلَى الرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ»

“Antara pusar dan lutut adalah aurat.” (HR. Hakim, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5583).

Berdasarkan hadits diatas, maka lutut dan pusar bukanlah aurat (ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i). Bahkan yang menjadi aurat adalah bagian antara pusar dan lutut.

Sedangkan Firman Allah SWT. Tentang batasan aurat wanita adalah:

firman Allah Ta’ala,
Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“” (QS. An Nur: 31).

Maksud ayat tersebut bahwa aurat perempuan adalah seluruhnya kecuali yang (biasa) nampak darinya yaitu wajah dan telapak tangan. Maka dengan begitu para wanita masih bisa berinteraksi dengan orang lain yang bukan mahram sekaligus asal menjaga batasan. Seperti interaksi jual beli dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana dengan suara wanita apa itu termasuk kedalam auratnya wanita? Bukankah suara adalah bunyi yang diucapkan mulut guna untuk berinteraksi dengan yang lainnya? Pastinya sangat diperlukan di keseharian bukan?

3.Benarkah Suara Wanita Aurat?

Nah, mengenai suara wanita itu aurat atau bukan ada beberapa pendapat sebagian ulama yang mengatakan suara wanita itu aurat dan sebagian ulama yang lain mengatakan suara wanita bukanlah aurat.

Sebagian ulama mengatakan suara perempuan bukan aurat karena para istri Rasulullah SAW meriwayatkan hadis kepada para sahabat atau tabiin laki-laki. Sebagian ulama mengatakan bahwa suara perempuan termasuk aurat.Meskipun suara wanita tidak dikategorikan sebagai aurat . Namun, alangkah baik nya wanita tetap menjaga suaranya dari laki-laki yang bukan mahram agar terhindar dari fitnah. Mengapa demikian? Karena suaranya lebih mendekati fitnah daripada suara gemerincing gelang kakinya.

Dalam surat an-Nur ayat 31 Allah berfirman,

"Janganlah mereka berjalan dengan mengentakkan kaki agar perhiasan mereka yang tersembunyi dapat diketahui”.

Allah melarang laki-laki untuk mendengarkan suara gemerincing gelang kaki perempuan karena itu menunjukkan perhiasan mereka. Keharaman suara perempuan tentu lebih daripada keharaman (mendengarkan) suara gemerincing perhiasannya.

4.Larangan Wanita Meninggikan Suara.

benarkah suara wanita Aurat

Sering kita jumpai bahkan memang adanya begitu kita jarang sekali menemukan atau bahkan mungkin tidak ada seorang wanita yang mengumandangkan adzan memang seorang wanita adalah makruh jika ber adzan dengan alasan karena adzan harus meninggikan suara.sedangkan wanita dilarang meninggikan suaranya apalagi ketika sedang berbicara dengan yang bukan mahramnya.

jika suara wanita memancing fitnah yang melahirkan syahwat, atau sengaja berlezat-lezat mendengarkannya maka itu aurat dan diharamkan.

5.Pihak Yang Mengatakan Suara Wanita Aurat.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

Janganlah kaum wanita mengentakkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka yang tersembunyi. (QS. An Nuur: 31)

Ayat ini melarang wanita dengan sengaja memperdengarkan perhiasannya ke laki-laki bukan mahramnya, dan suara wanita termasuk perhiasan bagi mereka, maka itu lebih layak untuk dilarang. Itu adalah alasan mengapa suara wanita dikatakan aurat.

Pihak yang mengatakan suara wanita aurat dengan alasannya yang lain adalah sebagai berikut:

Syekh Abdurraman Al-Jazairi menjelaskan:

فقد نهى الله تعالى عن استماع صوت خلخالها لأنه يدل على زينتها فحرمة رفع صوتها أولى من ذلك ولذلك كره الفقهاء أذانالمرأة لأنه يحتاج فيه إلى رفع الصوت والمرأة منهية عن ذلك وعلى هذا فيحرم رفع صوت المرأة بالغناء إذا سمعها الأجانب سواءأكان الغناء على آلة لهو أو كان بغيرها وتزيد الحرمة إذا كان الغناء مشتملا على أوصاف مهيجة للشهوة كذكر الحب والغراموأوصاف النساء والدعوة إلى الفجور وغير ذلك

Allah SWT. telah melarang mendengarkan suara karena hal itu menunjukkan perhiasannya maka haramnya meninggikan suaranya lebih pantas diharamkan, oleh karena itu para ahli fiqih memakruhkan azan kaum wanita karena azan membutuhkan suara yang ditinggikan dan wanita dilarang untuk itu. oleh karena itu, diharamkan meninggikan suara wanita dalam nyanyian jika yang mendengarkannya adalah laki-laki bukan mahramnya sama saja apakah pakai alat musik, atau tidak, dan keharamannya bertambah jika nyanyian tersebut mengandung penyifatan yang bisa menimbulkan syahwat seperti senandung cinta, rindu, penggambaran tentang wanita, dan ajakan kepada perbuatan keji dan lainnya. (Al Fiqh ‘Alal Madzaahib Al Arba’ah, 5/26)

6.Pihak Yang Mengatakan Suara Wanita Bukan Aurat.

Rasulullah ﷺ pernah berbicara dengan kaum wanita.

Allah ﷻ berfirman:

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al Mujadilah: 1)

Ayat diatas tersebut mengatakan bahwa ketika itu rasulullah pernah berbicara dengan seorang wanita. Beliau berinteraksi dengan wanita itu dan Allah mengetahuinya mendengar dan melihatnya.

Suara wanita menurut mayoritas ulama bukanlah aurat karena dahulu para sahabat Nabi SAW mendengarkan dari istri-istri Nabi SAW untuk mempelajari hukum-hukum agama, tetapi diharamkan mendengarkan suara wanita jika melahirkan gairah dan mendayu-dayu walau pun membaca Al Quran, disebabkan khawatir lahirnya fitnah. (Al Fiqhu Al Islami wa Adillatuhu, 1/665)

Jadi, jika lahir fitnah yaitu lahirnya syahwat misalnya, maka hal itu terlarang, jika tidak ada fitnah maka tidak apa-apa, walau pun mendengarkan wanita bernyanyi.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali Al Qari. Syekh Wahbah Az Zuhaili juga mengatakan:

فلا يحرم سماع صوت المرأة ولو مغنية، إلا عند خوف الفتنة

Maka, tidaklah diharamkan mendengarkan suara wanita walau wanita penyanyi kecuali jika khawatir terjadinya fitnah. (Ibid, 2/116)

Maka dari itu harus kita ketahui sekarang bahwa ada dua pendapat tentang suara wanita aurat atau bukan. Sebagian ulama mengatakan aurat dan sebagian yang lain mengatakan suara wanita bukanlah aurat. Namun, wanita harus bisa menjaga suaranya dari orang-orang yang bukan mahramnya karena bisa saja suara tersebut menjadi fitnah dan haram di dengar oleh orang-orang ajnabi.

Mari kita sama-sama belajar termasuk Admin agar apa yang kita ketahui bisa bermanfaat Bagi diri Sendiri dan orang banyak.Aamiin



LihatTutupKomentar

Dmca